Selasa, 06 Maret 2012

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) IPA SD

DAFTAR ISI

LAPORAN HASIL PERBAIKAN ……………………………………………… i
LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………………... ii
KATA PENGANTAR …………………………………………………………... iii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………….. iv
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………. 1
A. Latar Belakang ………………………………………………. 1
B. Rumusan Masaalah ………………………………………….. 3
C. Tujuan Penelitian ……………………………………………. 3
D. Mamfaat Penelitian ………………………………………….. 4
BAB II KAJIAN TEORI ……………………………………………. 5
A. Hakekat Inovasi Pembelajaran ……………………...………… 5
B. Pengertian Desain Pembelajaran.................................................... 5
C. Pengertian Model Pembelajaran .............………………………. 6
D., Jenis – Jenis Pembelajaran ................................................... ...... 7
BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN …………. 10
3.1. Penetapan Lokasi Penelitian …………………………………. 10
3.2. Waktu Pelaksanaan …………………………………………... 10
3.3. Tahap Awal / Perencanaan …………………………………... 10
3.4 Deskripsi Persiklus …………………………………………… 11
3.5.Siklus I ………………………………………………………….. 13
3.6 Siklus II ………………………………………………………… 13
3.7 Refleksi ………………………………………………………… 14
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……………….. 10
4.1. Deskripsi Hasil penelitian ..................................................... 15
4.2. Pembahasan dari Setiap Siklus …………………………….. 19
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………… 21
5.1. Kesimpulan ………………………………………………… 21
5.2. Saran ……………………………………………………….. 21
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 22
LAMPIRAN – LAMPIRAN
















BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran yang direncanakan,maka tentu guru dituntut merencanakan segala yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran yang tersusun secara terarah dan sistimatis sehingga pada apa yang direncanakan terwujud sesuai harapan. Akan tetapi kenyataan sering menunjukkan walaupun desain pembelajaran telah direncanakan secara matang dengan pertimbangan dan analisis berbagai hal ,akan tetapi hasil pembelajaran terkadang tidak sesuai harapan.
Kasus pembelajaran pada siswa kelas V untuk mata pelajaran IPA yang dialami penulis memberikan kesan bahwa sesungguhnya perencanan awal pembelajaran sering bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi. Hal ini dibuktikan dari adanya data analisis hasil evaluasi belajar siswa untuk setiap ujian formatif mata pelajaran “ Ilmu Pengetahuan Alam “ yang sering menunjukkan hasil ketidaktercapaian ketuntasan belajar dimana dari 15 orang siswa kelas V hanya berkisar 2 sampai 4 orang yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar atau rata – rata 13,33 % siswa yang telah memahami materi yang diajarkan sesuai perencanaan semula.
Memperhatikan hal telah berbagai upaya yang ditempuh sebagai proses tindak lanjut hasil pembelajaran dimaksud yang dipandang sebagai suatu bentuk refleksi terhadap kinerja pembelajaran yang telah dilaksanakan ,antara lain dengan melaksanakan pembelajaran remedial,pemberian tugas individual, analisis metode
yang digunakan dalam proses pembelajaran semula, analisis karakteristik alat
peraga pembelajaran yang dikembangkan semula apakah sesuai dengan karakteritik siswa,materi atau tidak,analisis terhadap karakteristik tingkat kemampuan siswa terhadap materi pembelajaran.
Upaya lain yang juga dipandang sebagai bentuk analisis kinerja pembelajaran dengan melalui analisis terhadap pengamatan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh teman sejawat,serta analisis kinerja pembelajaran dengan pendekatan konsultatif dengan teman sejawat dan kepala sekolah untuk memperoleh gambaran dan informasi tentang bentuk kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan serta upaya – upaya yang dapat ditempuh sebagai langkah perbaikan proses pembelajaran dan berbagai upaya lain sehingga pada akhirnya diterapkanlah suatu bentuk pembelajaran baru sebagai pembaharuan dari konsep pembelajaran yang telah dilaksanakan namun hasilnya tetap belum mencapai ketutasan minimal belajar yang ditergetkan yakni tuntas belajar 76 %
Memperhatikan kenyataan dari berbagai upaya yang telah dilaksanakan penulis ingin menindaklanjuti masalah pembelajaran ini melalui suatu penelitian yang lebih spesifik dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang dipandang dapat memberikan solusi terbaik dan sebagai alur penyelosaian masalah pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan menerapkan Model Pembelajaran Komparasi dalam pembelajaran IPA dikelas V ( lima ).
Pemilihan Model Pembelajaran Komparasi ini didasari oleh analisis beberapa hal antara lain :
- Kerangka dasar dalam pembelajaran Model Pembelajaran Komparasi memungkinkan pelibatkan siswa dan guru dalam proses pemecahan

- masalah pembelajaran ,sehingga akan timbul konsep dan keyakinan belajar siswa tentang apa yang perlu diketahui,dilakukan,diyakini setelah menyelosaikan pembelajaran ( Yulaelawati 2004 : 57 )
- Mendorong siswa untuk menerapkan pengetahuan atau konsep pembelajaran yang diterima di luar kelas atau dalam kehidupan sehari – hari sehingga hal ini merupakan suatu cermin penerapan strategi pembelajaran berdasarkan analisis kompotensi lokal
- Dapat meningkatkan efisiensi waktu belajar, sehingga dengan demikian efektifitas belajar akan lebih bermakna terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran
Selanjutnya dasar pertimbangan lain adanya pemilihan Model Pembelajaran Komparasi dalam mengatasi masalah ketidakcapaian ketuntasan belajar pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) kelas V ditinjau dari aspek efektifitasnya langkah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran bermakna ( Yulaelawati 2004 : 57 ) dengan langkah – langkah pembelajaran sebagai berikut :
- Analisis karakteristik siswa
- Penyusunan kegiatan pembelajaran
- Penyusunan strategi pembelajaran
- Pengurutan pengalaman belajar
- Menyusunan media pembelajaran
- Penyampaian isi/materi pembelajaran
- Penilaian kinerja pembelajaran
- Pelaksanaan proses tindak lanjut
Mencermati uraian di atas sebagai dasar dalam mengatasi masalah ketidakcapaian ketuntasan belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas V,melalui penarapan Model Pembelajaran Komparasi maka penulis memformulasikan dalam satu judul Penelitian Tindakan Kelas :
“ Penerapan Model Pembelajaran Komparasi dalam Mencapai Ketuntasan Belajar Siswa “
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada Latar belakang masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut
“ Apakah Penerapan Model Pembelajaran Komparasi dapat Mencapai Ketuntasan Belajar Siswa Kelas V pada mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) “
C. Tujuan Penelitian
Selanjutnya berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut
“ Untuk mengetahui apakah Model Pembelajaran Komparasi dapat Mencapai Ketuntasan Belajar Siswa Kelas V pada mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) “




D. Manfaat Penelitian
a. Bagi peneliti ( Guru )
Hasil penelitian dapat membantu peneliti untuk memperbaiki proses pembelajran, mengembangkan frofesional meningkatkan rasa percaya diri meningkatkan rasa ingin tahu dan memungkin secara aktif mengembangkan

pengetahuna dan keterampilan serta dapat dijadikan sumber data untuk melanjutkan penelitain dengan variabel lain
b. Bagi Siswa
Hasil penelitian dapat meningkatkan proses dan hasil belajar
c. Bagi institusi Sekolah
Hasil penelitian merupakan input untuk penyelonggaraan dan pengembangan pendidikan pada periode berikutnya



















BAB II
KAJIAN TEORI
A. Hakekat Inovasi Pembelajaran
Perkembangan dan peningkatan proses pembelajaran sesungguhnya sudah semakin maju sehingga telah menghasilkan berbagai inovasi dalam proses pembelajaran .Pada prinsipnya inovasi dalam pembelajaran ini sangat erat hubungannya kualitas pembelajaran itu sendiri, sebab proses pembelajaran tidak dapat berjalan tanpa pengembangan suatu inovasi pembelajaran.
Secara umum konsep inovasi pembelajaran banyak dikemukakan oleh para ahli. Sprayekti ( 216 : 2006 ) mengemukakan inovasi pembelajaran merupakan penerapan beberapa prinsip dan prosedural baru dan pemecahan permasalahan pembelajaran oleh pebelajar. Selanjutnya lebih dijelaskan bahwa inovasi pembelajaran dimaksud merupakan bentuk penerapan konsep baru dalam pengembangan kualitas pembelajaran,dengan tujuan agar kegiatan pembelajaran akan bermakna
Selanjutnya seorang pakar inovasi pendidikan Ibrahim ( 114 : 2006 ) mengemukakan inovasi pembelajaran merupakan pembaharuan yang dilakukan untuk memecahkan masalah – masalah pembelajaran dalam bentuk ide, konsep, strategi, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekolompok yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran atau memecahkan masalah – masalah pembelajaran.
Dari pendapat tentang pengertian inovasi pembelajaran sebagaimana dalam uraian ini,maka jelas bahwa pada hakekatnya inovasi pembelajaran adalah suatu
ide, konsep, strategi, metode yang secara sadar dilaksanakan oleh seorang guru sebagai hal yang baru yang selanjutnya digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam suatu kegiatan pembelajaran atau memecahkan masalah – masalah pembelajaran
B. Pengertian Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang,misalnya sebagai disiplin,sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses.Sebagai disiplin desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi
serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya.
Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk mencipkan spesifikasi pengembangan,pelaksanaan,penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Selanjutnya sebagai sistem desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaanya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.
Desain pembelajaran sebagai proses merupakan pengembangan sistematis tentang spesifikasi pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran dan teori belajar untuk menjamin mutu pembelajaran. Desain pembelajaran merupakan proses keseluruhan tentang kebutuhan dan tujuan serta sistem penyampaianya, termasuk didalamnya pengembangan bahan dan kegiatan pembelajaran,uji coba dan penilaian bahan serta pelaksanaan kegiatan pembelajaranya
Berdasarkan uraian ini dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah spesifikasi pengembangan secara sistematis, pelaksanaan, penilaian, serta
pengelolaan sistem pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran
C. Pengertian Model Pembelajaran
Dalam memahami pengertian tentang Model Pembelajaran, maka lebih awal dipahami dulu konsep tentang model itu sendiri. Model secara umum dapat diartikan sebagai gambaran mental yang membantu untuk menjelaskan sesuatu dengan lebih jelas terhadap sesuatu yang tidak dapat dilihat atau tidak dialami secara langsung ( Ella Yulaelawati 50 : 2006 ). Model dapat berupa skema,bagan, gambar, dan tabel yang dapat menjelaskan keterkaitan berbagai komponen dalam suatu pola pemikiran, yang disajikan secara utuh.
Demikian dapat dipahami bahwa model pada hakekatnya dapat membantu melihat,menganalisis,atau memahami kejelasan atau keterkaitan konsep secara lebih cepat, utuh, konsisten, dan meyeluruh.Hal ini disebabkan oleh adanya suatu model disusun merupakan upaya dan bertujuan mengkonktretkan keterkaitan hal –
hal abstrak dalam suatu skema, bagan, gambar, atau pola tindakan atau alur pemikiran tabel sehingga segala uraian atau konsep dapat terbaca
Selanjutnya jika pengertian model dipahami dalam konsep Model Pembelajaran maka menurut Ella Yulaelawati ( 56 : 2006 ) dipandang sebagai mitos dan metafor yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu. Apakah model itu diturunkan oleh seseorang atau merupakan hasil penelitian pada prinsipnya menawarkan pemahaman tertentu secara lebih muda, dimana model pembelajaran ini menawarkan struktur dan pemahaman tentang desain pembelajaran.
Lebih lanjut jika dicermati model pembelajaran menjadikan pengembang pembelajaran memahami masalah,merinci kedalam unit – unit yang lebih muda diatasi dan meyelosiakan masalah pembelajaran. Nilai suatu model pembelajaran mengandung maksud tertentu bagi pengguna,menawarkan penyelosaian beban pembelajaran serta menyajikan fokus dan arahan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
D. Jenis – Jenis Model Pembelajaran
Telah dipahami bahwa dalam rangka inovasi pembelajaran berbagai model pembelajaran yang telah banyak dikembangkan oleh para pakar pendidikan namun dalam kajian ini jenis – jenis model pembelajaran hanya dibatasi pada model pembelajaran sebagai berikut :
1. Model Pembelajaran Resep
Model pembelajaran resep dikembangkan dengan maksud untuk memberikan dan memudahkan para guru untuk melaksanakan proses kegiatan pembelajaran.Dalam model pembelajaran ini,pola pikir yang digunakan untuk mencapai tujaun serta mengefektifkan pengembangan kegiatan pembelajaran dikategorikan dalam konsep :
1.1. Perumusan tujuan
1.2. Penyusunan kegiatan pembelajaran
1.3. Penyusunan kegiatan penilaian
Aplikasi model pembelajaran resep adalah penyusunan berbagai petunjuk mengajar dengan rincian sebagai berikut :
1.1. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara konkret, jelas dan terukur
1.2. Rumusan kegiatan pembelajaran yang mencerminkan hal – hal yang diperlukan guru dalam membimbing peserta didik .
1.3. Menyusunan dan penyiapan sarana dan sumber pembelajaran yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran
1.4. Penyusunan rincian soal – soal penilaian untuk menilai ketercapaian tuntas pembelajaran.
2. Model Pembelajaran Penomenologi
Model pembelajaran ini menekankan pada pengalaman – pengalaman pemrosesan informasi yang perlu diupayakan dalam kegiata belajar peserta didik.Walaupun model pembelajaran Penomenologi ini banyak dikementari oleh para pakar pendidikan, namun dalam pengertian ini Ella Yulaelawati ( 57 : 2006 ) mengemukakan bahwa pada prinsipnya bertujuan mengefektifkan kegiatan pembelajaran sehingga bermakna dalam mencapai tujuan yang diharapkan.Adapun langkah – langkah pembelajaran secara umum sebagai berikut
2.1. Perancangan tujuan pembelajaran
2.2. Perancangan kegiatan pembelajaran
2.3. Perancangan kegiatan penilaian
2.4. Perancangan kegiatan tindak lanjut
3. Model Pembelajaran Komparasi dan Penerapannya dalam mencapai ketuntasan belajar Siswa
Model pembelajaran komparasi merupakan suatu kerangka dasar situasi pembelajaran yang melibatkan seluruh komponen pelaku kegiatan pembelajaran dalam hal ini guru dan siswa dalam situasi pemecahan masalah. Melalui pelibatan dalam pemecahan masalah pembelajaran siswa termotivasi untuk berpikir serta menerapkan pengetahuannya di luar kelas atau dalam kehidupan sehari – hari sehingga tercipta efisiensi waktu belajar dan peningkatan mutu pembelajaran.
Aplikasi model pembelajaran pembelajaran komparasi bahwa posisi guru lebih banyak berperan sebagai penasehat untuk isi pembelajaran , motivator, membantu siswa mengintegrasikan dan mengaktualisasikan pembelajaran serta menerapkan prinsip – prinsip pengelolaan partisipatif
Desain pembelajaran komparasi dapat tersusun dalam langkah – langkah sebagai berikut :
- Analisis karakteristik siswa
- Penyusunan kegiatan pembelajaran
- Penyusunan strategi pembelajaran
- Pengurutan pengalaman belajar
- Menyusunan media pembelajaran
- Penyampaian isi/materi pembelajaran
- Penilaian kinerja pembelajaran
- Pelaksanaan proses tindak lanjut
E. Indikator Kinerja
Adapun yang menjadi indikator kinerja keberhasilan dalam penelitian ini adalah jumlah siswa yang mengalami peningkatan pemahaman dari 7 orang ( 29.17 %) yang telah mencapai ketuntasan belajar meningkat menjadi 20 0rang ( 83.33 % ) dari 24 siswa



















BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN

3.1. SUBYEK PENELITIAN
3.1 Penetapan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di SDN 1 Pontolo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Propinsi Gorontalo yang terletak tidak jauh dari jantung kota dari pada Kabupaten.
Penelitian ini dipilih siswa kelas V yang berjumlah 15 orang peseta didik yang terdiri dari 9 laki – laki dan perempuan 6 orang. Para peserta didik memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dengan status ekonomi dibawah rata – rata.
3.2. Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan pada hari Selasa 27 April 2010 pukul. 11.00 – 12.05 dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
A. Deskripsi Per Siklus
3.3. Tahap Awal / Perencanaan
Dalam hal ini penelitian diawali mempersiapkan hal – hal yang akan diteliti pada tahap awal penelitian sebagai berikut :
a. Meminta izin kepada Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab dan meminta persetujuan guru – guru disekolah tersebut dimana para guru tersebut terkait dengan penelitian.
b. Mengadakan wawancara dengan teman guru terutama yang terlibat dengan penelitian atau yang akan diteliti.
c. Membuat Rencana Pembelajaran, berupa Rencana Program Pembelajaran ( RPP ), serta media lingkungan sekitar yang berhubungan dengan materi pembelajaran serta menyiapkan alat penilaian.Menyusun lembar evaluasi sebagai dasar untuk mengukur kemampuan siswa dalam proses pembelajaran




3.2. DESKRIPSI PERSIKLUS
3.3.1. Rencana Perbaikan
3.3.1.1. Pra Siklus
Berdasarkan hasil analisis ketuntasan belajar siswa kelas V untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, dalam dua kali penilaian formatif I dan II hanya terdapat rata – rata 7 orang siswa dari 24 orang siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar ideal ( 75 % ketuntasan belajar). Pada hal lain pula bahwa secara kualitatif kemampuan pemahaman siswa dalam materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sangat rendah. Kondisi rendahnya pemahaman ini nampak pada hal – hal sebagai berikut :
a) Siswa sulit menjawab pertanyaan sehubungan dengan materi yang dipelajari
b) Tidak dapat menerapkan konsep pembelajaran yang sedang dipelajari kedalam situasi konkrik.
Berdasarkan hal inilah yang memotivasi penulis untuk perlunya melakukan penelitian melalui proses perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran komparasi sehingga ketuntasan belajar siswa yang hanya terdiri dari 7 orang (29.17 % ) akan meningkat menjadi 20 orang (83.33 %)
3.3.1.2. Siklus 1
1) Memotivasi siswa dalam kegiatan perbaikan pembelajaran dengan melakukan tanya jawab sebagai appersepsi sehubungan materi pembelajaran
2) Memberikan gambaran dan penjelasan umum materi, hubungan antara gaya, gerak dan energi
3) Memajangkan / menampilkan gambar aktifitas yang mencerminkan hubungan antara gaya, gerak dan energi, yang selanjutnya siswa dibimbing untuk meangapi serta mengajukan pendapat atas pengamatanya
2) Mengajukan pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa sehubungan dengan tampilan gambar hubungan antara gaya, gerak dan energi
3) Siswa dibimbing untuk melakukan percobaan tentang hubungan antara gaya, gerak dan energi
4) Memotivasi serta meningkatkan intensitas bimbingan kepada siswa tentang pemahaman hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui serta mengementari setiap konsep yang disampaikan/ditemukan siswa
5) Melaksanakan evaluasi dan tindak lanjut kegiatan pembelajaran
3.3.1.3. Siklus 2
Sebagai tindak lanjut pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I,maka penulis masih melakukan penelitian pada siklus II.Hal ini disebabkan adanya hasil ketuntasan belajar belajar siswa dalam pemahaman konsep hubungan antara gaya, gerak dan energi belum mencapai ketuntusan belajar yang diharapakan

Dalam siklus ini bentuk kegiatan yang dilaksanakan berbeda dengan yang sebelumnya .Adapun langkah – langkahnya sebagai berikut :
1) Setelah memotivasi siswa sebagai appersepsi siswa langsung diberikan soal – soal pemahaman konsep dalam bentuk kegiatan percobaan
2) Siswa dibimbing dan diarahkan untuk menemukan sendiri konsep melalui pecobaan hubungan gaya, gerak dan energi.
3) Kegiatan dilanjutkan dengan melaksanakan langkah dan bentuk penerapan tekhnik model pembelajaran komparasi sebagaimana yang telah dilakukan pada siklus pertama
3.1.2. Pelaksanaan
Pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran dalam tahapan sebagai berikut :
1. Pra Siklus :
Tahap ini dilaksanakan dengan tujuan mempeoleh data akurat sebagai asumsi dasar pelaksanaan penelitian
2. Siklus I
Tahapan ini merupakan tahapan tindak lanjut dari tahapan pra siklus.Dalam hal ini hasil analisis ketuntasan belajar siswa kelas V pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam,pada pra siklus dalam dua kali penilaian formatif I dan II dimana terdapat 7 ( 29.17 % ) orang siswa dari 24 orang siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar ideal ( 75 % ketuntasan belajar).Akan diusahakan meningkat menjadi 20 orang ( 83.33 % ) dengan menerapkan model pembelajaran komparasi
Dalam pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran pada tahap ini peran pengamat sangat diperlukan karena hasil pengamatan berupa jurnal pengamat akan dijadikan masukan dasar dalam melakukan tindakan pada siklus berikunya.Adapun yang menjadi sasaran utama pengamatan sehubungan penetapan indikator kinerja adalah kemampuan siswa untuk mengetahui, memahami sekaligus menyampaikan dan menerapkan konsep pembelajaran kedalam situasi konkrik, disamping pengamatan tentang penerapan proses pembelajaran dengan model komparasi.
3. Siklus II
Seperti halnya dengan tahap siklus II maka kegiatan yang dilaksanakan merupakan tahapan tindak lanjut dari tahapan siklus I.Oleh karena itu pelaksanaanya dokumen hasil ketuntasan belajar siswa tetap dianalisis untuk menetapkan tindakan selanjutnya
Dalam pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran pada siklus peran pengamat masih tetap diperlukan karena hasil pengamatan berupa jurnal pengamat akan dijadikan masukan dasar dalam melakukan penetapan tindakan perbaikan serta mengetahui kekuatan dan kelemahan proses kegiatan yang dilaksanakan. Pada siklus sasaran utama pengamatan masih bersifat sama dengan siklus I akan tatapi dalam siklus 2 sudah mempertimbangkan pula hasil pengamatan dan refleksi pada siklus I




3.1.3. Data / Instrumen Penelitaian Perbaikan Pembelajaran
a. Sumber data/instrumen : Siswa dan seluruh karakteritik yang berhubungan dengan penelitian perbaikan pembelajaran
b. Jenis data/instrumen : Ketuntasan belajar siswa sebelum dan
sesudah perbaikan pembelajaran
c. Proses /Cara pengabilan data :
- Hasil ketuntasan belajar siswa dalam memahami konsep pembelajaran hubungan gaya, gerak dan energi
- Proses perbaikan pembelajaran dengan tekhnik model pembelajaran komparasi yang diperoleh melalui observasi
3.1.4. Refleksi
Pada tahap repleksi semua data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan dokumen evaluasi hasil belajar siswa dianalisis secara kuatitatif maupun secara kulaitatif dan hasilnya digunakan untuk merefleksi diri terhadap kinerja proses perbaikan pembelajaran. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah kegiatan yang dilaksanakan telah dapat mendukung pencapaian ketuntasan belajar siswa atau tidak. Disamping itu pula hasil analisis terhadap dokumen hasil belajar dan observasi digunakan pula jurnal yang dibuat selosai melakukan kegiatan pembelajaran.Data hasil jurnal digunakan sebagai acuan untuk mengevaluasi diri dalam merencanakan siklus berikutnya.










BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Hasil penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN I Pontolo Kelas V Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara, dengan jumlah siswa sebanyak 16 orang. Dalam penelitian ini yang menjadi peneliti adalah guru kelas V pada sekolah dimaksud serta dibantu oleh teman sejawat guru kelas VI dan Kelas IV yang merupakan mitra kerja dalam pelaksanakan penelitian.
Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus yang sebelumnya dilaksanakan prasiklus terhadap subyek penelitian yang merupakan dasar dalam pelaksanaan penelitian ini.
4.1.1. Pra siklus
Dalam kegiatan Pra siklus telah dianalisis dokumen rata – rata hasil belajar siswa selama 2 kali ulangan formatif, yang memberikan kesan tidak tercapainya ketuntasan belajar siswa terhadap materi ilmu Pengetahuan Alam yang dipelajari. Selanjutnya secara rinci dokumen hasil belajar siswa tersebut sebagai berikuit :
Tabel 2
Hasil analisis ketuntasan Belajar Siswa pada tahap Pra Siklus
No Tingkat Ketuntasan Jumlah Siswa Ketuntasan Belajar
( % ) Ketuntasan Belajar ideal ( % )
1 Tuntas 7 29.17 % 75
2 Tidak Tuntas 17 70.83 % 0
Jumlah 24 100 75


Berdasarkan tabel diatas nampak bahwa ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahua Alam terdapat 7 orang siswa atau 29.17 % dari 24 siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar dan sebanyak 17 orang atau 70.83 % yang belum mencapai ketuntasan belajar. Hal inilah yang memotivasi penulis untuk perlunya melakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran komparasi sehingga 7 orang siswa ( 29.17 % ) yang telah mencapai ketuntasan belajar akan meningkat menjadi 20 orang (83.33 %)
4.1.2. Siklus I
Tabel 2
Hasil analisis ketuntasan Belajar Siswa Siklus I

No Tingkat Ketuntasan Jumlah Siswa Ketuntasan Belajar
( % ) Ketuntasan Belajar ideal ( % )
1 Tuntas 11 45.83 % 75
2 Tidak Tuntas 13 54.17 %
0
Jumlah 24 100 75

Dari hasil analisis ketuntasan belajar siswa sebagaimana pada tabel 2 telah terjadi peningkatan prosentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar dari prosentase ketuntasan awal siklus , dimana telah terdapat 11 siswa (45.83 ) yang
telah mencapai Ketuntasan Belajar sedangkan 17 orang ( 54.17 %), dari 24 orang siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar
Memperhatikan hasil analisis ketuntasan belajar sebagaimana dalam uraian ini maka ditetapkan perbaikan pembelajaran dilanjutkan ke siklus II. Hal ini didasari oleh adanya indikator kinerja yang telah ditetapkan yakni jika dari 7 orang ( 29.17 % ) akan meningkat menjadi 20 0rang ( 83.33 %) dari 24 siswa belum tercapai
Dari jurnal pengamat diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut :
1. Kemampuan siswa untuk mengetahui sekaligus menyampaikan konsep pembelajaran yang diingatanya masih sangat rendah
2. Siswa masih perlu arahan dan bimbingan tekhnis dalam percobaan penerapan pemahaman konsep pembelajaran kedalam situasi konkrik tentang hubungan gaya, gerak dan energi
3. Motivasi siswa untuk terlibat dalam penemuan konsep masih rendah
Selanjutnya dari hasil refleksi terungkap beberapa aspek yang perlu diperhatikan yakni :
1. Intensitas Penguasan kelas perlu ditingkatkan,hal ini menghindari kondisi pembelajaran akan ribut
2. Media pembelajaran yang digunakan dalam percobaan perlu divariasikan,hal ini menghindari kejenuhan siswa dalam kegiatan belajar
4.1.3. Siklus II
Dalam kegiatan pembelajaran siklus II diperoleh hasil ketuntasan belajar sebagai berikut :


Tabel 3
Hasil analisis ketuntasan Belajar Siswa Siklus II
No Tingkat Ketuntasan Jumlah Siswa Ketuntasan Belajar
( % ) Ketuntasan Belajar ideal ( % )
1 Tuntas 22 91.67 %
75
2 Tidak Tuntas 2 8.33 %
0
Jumlah 24 100 75

Dari hasil analisis ketuntasan belajar siswa sebagaimana pada tabel 3 telah terjadi peningkatan prosentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar dari prosentase ketuntasan pada siklus II , yakni telah terdapat 22 siswa ( 91.67 %) yang telah mencapai Ketuntasan Belajar sedangkan 2 orang ( 8.33 % ), dari 24 orang siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar
Selanjutnya Memperhatikan hasil analisis ketuntasan belajar sebagaimana dalam uraian ini maka nampak indikator kinerja yang telah ditetapkan yakni jika dari 7 orang ( 29.17 % ) akan meningkat menjadi 20 0rang ( 83.33 %) dari 24 siswa telah tercapai walaupun belum 100 % ketuntasan yakni masih 2 orang siswa ( 8.3 % ) dari 24 orang siswa yang belum mencapai ketuntasan
Selanjutnya dari jurnal pengamat diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut :
1. Telah terjadi peningkatan kemampuan siswa untuk mengkomunikasikan konsep pembelajaran kedalam situasi konkrik
2. Situasi pembelajaran masih sama dengan situasi pada siklus sebelum
4.1.4. Analisis Rata – Rata Prosentase Ketuntasan Belajar Siswa
Tabel 4
Analisis Rata – Rata ketuntasan Belajar Siswa
No Hasil Analisis Jumlah Siswa Ketuntasan Belajar
( % ) Peningkatan Ketuntasan Belajar ( % )
Tuntas Tidak Tuntas
1 Prasiklus 24 29.17 % 70.83 % 0
2 Siklus I 24 45.83 % 54.17 %
16.67

3 Siklus II 24 91.67 %
8.33 %
45.83


Dari hasil analisis pada tabel 4 diatas bahwa pada Siklus I mencapai rata – rata 45,83 % atau meningkat 16.67 % dari hasil analisis prasiklus.Selanjutnya siklus II mencapai rata – rata 91 .67 % atau meningkat 45.83 % dari hasil analisis ketuntasan belajar pra siklus dan siklus I.
Hal ini membuktikan terjadi peningkatan dalam setiap siklus,sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan ketuntasan belajar pada setiap siklus perbaikan pembelajaran.
4.2 . Pembahasan
Adapun yang menjadi indikator kinerja keberhasilan dalam penelitian yang telah ditetapkan adalah jika jumlah siswa mengalami peningkatan pemahaman dari 7 orang ( 29.17 %) yang telah mencapai ketuntasan belajar meningkat menjadi 20 0rang ( 83.33 % ) dari 24 siswa
Berdasarkan ketetapan tersebut penelitian ini menunjukkan hasil sebagaimana terlampir pada analisis Pra Siklus terdapat 7 orang siswa atau 29.17 % dari 24 siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar dan sebanyak 17 orang atau 70.83 % yang belum mencapai ketuntasan belajar.Siklus I terdapat 11 siswa (45.83 ) yang telah mencapai Ketuntasan Belajar sedangkan 17 orang ( 54.17 %), dari 24 orang siswa belum mencapai ketuntasan belajar.Siklus II terdapat 22 siswa ( 91.67 %) yang telah mencapai Ketuntasan Belajar sedangkan 2 orang ( 8.33 % ), dari 24 orang siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar
Dari hasil analisis penelitian persiklus menunjukkan bahwa indikator kinerja tercapai karena rata – rata ketuntasan belajar siswa mencapai 91.67 % dari hasil ketuntasan belajar pada pra siklus.Selanjutnya dari jurnal pengamatan dan Refleksi diperoleh data bahwa rendah tingkat pemahaman siswa dalam konsep hubungan gaya, gerak dan energi, sehingga pada siklus I dilaksanakan strategi penerapan model pembelajaran komparasi dengan memfokuskan starategi pada beberapa aspek yakni :
1. Memberian motivasi dan bimbingan kepada siswa dalam penemuan konsep pembelajaran
2. Pemberian penguatan dan bimbingan tekhnis pada siswa dalam melakukan percobaan dan mengkomunikasikan konsep pembelajaran kedalam situasi konkrik
Dari kegiatan tersebut maka pada siklus I terjadi perubahan peningkatan yakni meningkatnya jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar sekalipun masih terdapat kelemahan penerapan model pembelajaran Komparasi yakni kurang penguasan situasi kelas sehingga pada saat siswa melakukan percobaan situasi kelas ribut
Selanjutnya pada kegiatan siklus II dilakukan upaya – upaya perbaikan terhadap kelemahan pada siklus I yakni dengan memvariasikan alat percobaan tentang hubungan gaya, gerak dan energi, sehingga siswa pada umumnya terpusat pada kegiatan percobaan.Disamping itu memberian motivasi dan bimbingan tekhnis penerapan konsep pembelajaran lebih ditingkatkan
Dalam pelaksanaan kegiatan Siklus II telah terjadi peningkatan yang menunjukkan tercapainya indikator kinerja yang telah ditetapkan yakni sesuai analisis terdapat 22 siswa ( 91.67 %) yang telah mencapai Ketuntasan Belajar
Dari hasil analisis capaian ini dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Komparasi ketuntasan belajar siswa dapat ditingkatkan.
























BAB V
KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis pada Bab IV maka dapat disimpulkan bahwa telah tercapai secara signifikan ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu pengetahuan Alam. Dengan demikian indikator kinerja yang telah ditetapkan yakni apabila dari 7 orang ( 29.17 % ) menjadi 20 0rang ( 83.33 %) dari 24 siswa kelas V telah tercapai bahkan hal ini melebihi indikator kinerja yang telah ditetapkan semula yakni pada siklus II jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 22 orang atau sebesar 91.67 % .Sehingga dengan demikian penerapan model pembelajaran Komparasi terbukti dapat meningkatkan dan mencapai ketuntasan belajar
3.2. Saran TindakLanjut
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian maka dapat dikemukakan saran tindak lanjut sebagai berikut :
1. Refleksi terhadap kinerja pembelajaran perlu dilaksanakan guru pada setiap selosai melaksanakan pertemuan kegiatan pembelajaran, sebab dengan kegiatan ini segala kelemahan dan kelebihan kegaiatan pembelajaran yang dikembangkan dapat diketahui dan ditindak lanjuti kearah peningkatan
2. Dalam kegiatan pembelajaran guru hendaknya mengembangkan model pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteritik siswa,materi dan

kondisi lingkumgan sebab dengan pengembangan media pembelajaran siswa akan belajar dengan pendukung pembelajaran yang lebih bersifat konkrik sehingga dapat menciptakan kegiatan pembelajaran yang bermakna




DAFTAR PUSTAKA

Drs H Udin S Winata Putra , : 2007 Strategi Belajar Mengajar, UT Jakarta

Drs Agus Taufik MPd : .2007,Pendidikan Anak Di SD, UT Jakarta

Drs.Nono Sutarno MPd : 2007 Materi dan pembelajaran IPA SD UT Jakarta

Suprayekti : 2007 Pembaharuan Pembelajaran DI SD.

Igak Wardani : 2007 Penelitian Tindakan Kelas

Frof Dr.Nana Syaodih : Metode Penelitain Pendidikan

Ela Yulaelawati : 2006 Kurikulum Dan Pembelajaran ,Pakar Raya,Jakarta.



















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas : V ( LIMA )
Semester : II ( Dua )
Alokasi Waktu : 2 x 35 Menit
 STANDAR KOMPOTENSI
Energi dan perubahanya
Memahami berbagai bentuk energi dan cara penggunaanya dalam kehidupan
sehari – hari
 KOMPOTENSI DASAR
Mendeskripsikan energi panas dan energi bunyi yang terdapat dilingkungan sekitar, serta sifat – sifatnya.
 INDIKATOR
 Mengidentifikasi berbagai bentuk energi seperti energi gerak, energi panas dan energi bunyi.
I. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah pembelajaran selesai siswa dapat :
1. Menjelaskan pengertian energi
2. Mendemonstrasikan 3 bentuk energi dalam lingkunganya.
3. Memberikan 3 contoh energi dalam kehidupan sehari – hari
II. MATERI POKOK
 Bentuk – bentuk energi
 Energi dan perubahanya
III. METODE PEMBELAJARAN
 Ceramah
 Tanya jawab
 Pemberian tugas
 Demonstrasi
 Diskusi
IV. LANGKAH – LANGKAH PEMBELAJARAN
1. Kegiatan Awal (10 ’)
 Berdoa bersama
 Mengecek kehadiran siswa
 Memberikan apersepsi
Apa sebab kalian sarapan pagi sebelum berangkat kesekolah ?
Apa akibatnya jika kalian tidak makan dalam waktu lama ?
2. Kegiatan Inti
- Siswa Mendemonstrasikan :
 Membuka dan menutup pintu kelas
 Menjatuhkan bola kelantai
 Menggosokkan dua telapak tangan
- Tanya jawab tentang hal – hal yang berhubungan dengan kegiatan/demonstrasi
- Mengarahkan jawaban siswa, supaya lebih terfokus pada pengertian ”Energi”
- Mengadakan percobaan untuk lebih membuktikan bahwa energi dapat berubah bentuk
- Untuk pelaksanaan percobaan, alat dan bahan telah dipersiapkan oleh setiap kelompok
- Prosedur pelaksanaan, guru membagikan LKS ( Lembar Kerja Siswa ) yang memuat :
- Nama Kelompok :
- Judul Percobaan :
NO KEGIATAN ENERGI GERAK ENERGI PANAS ENERGI BUNYI KET
1

2.
3.
4.
5.

6. Menarik kereta / mobil – mobilan
Mendorong meja
Menyalakan korek api
Menyalakan lilin
Memetik karet gelang yang dipasang pada kaleng bekas
Memukul kaleng bekas
Kesimpulan :








- Langkah – langkah percobaan dipandu oleh guru sesuai kegiatan pada LKS
- Siswa melakukan kerja kelompok sesuai petunjuk LKS
- Guru membimbing kelompok dalam kegiatan diskusi
- Wakil siswa melaporkan hasil kerja kelompok dan dibacakan didepan kelas.
- Kelompok yang lain diminta untuk menanggapi setiap laporan yang telah dibacakan
- Guru dan siswa membuat kesimpulan akhir dari hasil kerja kelompok
- Siswa mencatat rangkuman pembelajaran mereka
3. Kegiatan Akhir ( 10 ’ )
 Mengadakan evaluasi
 Tindak lanjut, memberikan PR
 Menutup pelajaran dengan berdoa

V. ALAT DAN SUMBER
Alat :
 Mainan kereta atau mobil – mobilan
 Tali
 Korek api
 Karet gelang
 Lilin
 Pemukul
 Kaleng bekas
 Meja murid
Sumber : Ilmu Pengetahuan Alam SD / MI Kelas IV Hal. 98 - 99
Penerbit : Aneka Ilmu
Pengarang : Khamin, Supodo, Arif Ismiadi Rahman
VI. PENILAIAN
 Evaluasi
- Tes Tertulis
- Tes Perbuatan ( Dilaksankan pada saat kegiatan kelompok ) lembar penilaian disiapkan oleh guru




TES TERTULIS
Jawablah pertanyaan – pertanyaan berikuti !
1. Untuk apa kita makan ?
2. Sebutkan 3 contoh bentuk energi
3. Tulislah 3 cara energi panas dapat berpindah
4. Sebutkan 2 mamfaat energi panas bagi kehidupan manusia
5. Sebutkan 3 contoh benda yang dapat mengeluarkan bunyi

NO
KUNCI JAWABAN
SKOR
KETERANGAN
1 Supaya kita dapat tenaga 2





SKOR PEROLEHAN
NA =
SKOR KASIMUM
2 1. Energi Panas
2. Energi Bunyi
3. Energi Alternatif 2
3 a. Konduksi
b. Konveksi
c. Radiasi 2
4 a. Mengeringkan pakaian
b. Menyetrika pakaian
c. Memasak makanan 2
5 a. Radio
b. Ayam berkokok
c. Tape recorder 2

SKOR MAKSIMAL
10

PENERAPAN KONSEP
Siswa diberi PR sebagai berikut
1. Mengapa kendaraan dapat berjalan ?
2. Apakah sinar matahari sebagai sumber energi ?
Berikan 1 contoh





Lampiran
Format Kesediaan Sebagai Teman Sejawat dalam Penyelenggaraan PKP
Kepada
Kepala UPBJJ – UT Gorontalo
Di –
Gorontalo

Yang bertanda tangan dibawah ini menerangkan bahwa :
Nama : ADHA PONGOLIO,S.Pd
NIP : 198402202010011003
Tempat Mengajar : SDN 1 Pontolo
Alamat Sekolah : Desa Pontolo Kec.Kwandang. Kab. Gorontalo Utara
Telepon :
Menyatakan bersedia sebagai teman sejawat sejawat untuk mendampingi dalam pelaksanaan PKP atas nama
Nama : NURHAYATI M.DUNGGIO
NIM : 814437549
Tempat Mengajar : SDN 1 Pontolo
Program Studi : S1 - PGSD
Alamat Sekolah : Desa Pontolo Kec.Kwandang. Kab. Gorontalo Utara
Telepon :
Demikian agar surat peryataan ini dapat digunakan sebagai mestinya.


Kwandang, April 2010
Mengetahui
Kepala Sekolah Teman Sejawat




SUHARTI LAMATO,S.Pd ADHA PONGOLIO ,S.Pd
NIP. 196705201988022001 NIP.198402202010011003

SURAT PERNYATAAN



Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : NURHAYATI M.DUNGGIO
NIM : 814437549
UPBJJ – UT : Gorontalo

Menyatakan Bahwa :
Nama : ADHA PONGGOLIO,S.Pd
Tempat Mengajar : SDN 1 Pontolo :
Guru Kelas : V ( Lima )

Adalah teman sejawat yang akan membantu dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran, yang merupakan tugas mata kuliah PDGK 4904 Pemantapan Kemampuan Profesional.

Demikian peryataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.





Kwandang, April 2010
Yang Membuat Peryataan
Teman Sejawat Mahasiswa




ADHA PONGOLIO ,S.Pd NURHAYATI M.DUNGGIO
NIP. 198402202010011003 NIM. 814437549

CURRICULUM VITAE


4. IDENTITAS
1. Nama : NURHAYATI M.DUNGGIO
2. NIM : 814437549
3. Tempat Tanggal Lahir : Kwandang, 11 Januari 1985
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Agama : Islam
6. Angkatan : 2008.1
7. Jurusan : S1 – PGSD
8. Status : Mahasiswa
9. Alamat : Desa Leboto. Kec. Kwandang. Kab. Gorut
10. Tempat Tugas : SDN 1 Pontolo

5. Riwayat Hidup
A. Pendidikan Formal
1. SDN Inpres Leboto 1998
2. SMP Negeri 2 Kwandang 2001
3. SMA 1 Kwandang 2004
4. D2 PGSD Tahun 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar